Tampilkan postingan dengan label Cerita Bobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bobo. Tampilkan semua postingan

Air Hangat




Minggu pagi, begitu adzan subuh terdengar, Wieta langsung bangkit dari tempat tidurnya. Mama yang bersiap sholat heran melihatnya. Biasanya bila hari minggu wieta paling malas bangun pagi. Pagi ini memang lain, papa akan datang. Wieta tak sabar lagi ingin segera bertemu. Papa wieta seorang eksportir mebel jati. Akhirnya, ia menjual mebel jati ke pasar luar negeri. Sejak minggu lalu, papa mengikuti pameran dagang di India. Hari ini papa pulang.
   Papa tiba di rumah sekitar pukul tujuh pagi, ia membeli berbagai macam oleh-oleh untuk mama, eyang putri dan wieta.
   ”Pa, disana asyik ga?” tanya wieta menimang bonekanya.
   ”Ceritanya nanti ya, papa mau nengok Mbah Bejo dulu.”
   Papa meneguk air jahe yang disediakan mama kemudian bergegas membawa oleh-oleh ke kamar Mbah Bejo.
Dari ruang keluarga tempat wieta dan mama duduk, terlihat Mbah Bejo dan papa bercakap sejenak. Lalu papa menyiapkan air hangat untuk mandi Mbah Bejo. Wieta cemberut mengamati semua itu. Kenapa sih selalu Mbah Bejo yang diutamakan papa? Keluh wieta.

Surat Yang Terlupakan

   Raden Panji punya kebiasaan buruk.Ia sering melalaikan hal-hal penting. Patih Banyu Urip menjadi Khawatir memikirkan Kerajaan Gunung Wukir itu.
   Suatu hari datang utusan Raja Urang Garing membawa sepucuk surat. Raden Panji meletakkan surat itu begitu saja di meja istana tanpa dibaca dulu. "Sampaikan kepada rajamu, aku akan segera membalas surat ini,"ujarnya singkat pada utusan itu.

Harimau dan Jerami

   Di sebuah bukit yang tinggi, hiduplah seekor harimau. Jika ia mengaum maka semua penduduk desa yang tinggal di kaki bukit akan ketakutan mendengarnya.
   Suatu ketika, musim dinginpun tiba. Salju hampir menutupi seluruh dataran.
Harimau terpaksa turun dari bukit. Sudah beberapa hari ini ia belum mendapat hewan santapan. Perutnya kosong.ia benar-benar kelaparan.
Dalam keadaan putus asa, harimau datang mendekati jendela sebuah rumah. Suasana di dalam terlihat remang-remang, hanya diterangi lampu tempel. Ketika harimau asyik mengintip, tiba-tiba terdengar tangis seorang bayi. Seperti biasanya, jika sedang mengintai mangsa, harimau sangat berhati-hati. Ia beberapa kali mengelilingi rumah itu. Ketika harimau hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara ibu si bayi. ”sudahlah diam,..nanti ada srigala datang. Mulutnya besar, giginya tajam-tajam..Hiii..benar-benar menakutkan......!”
Mendengar ucapan ibunya, si bayi tidak berhenti menangis. Si ibu lalu berkata,”Nah...sekarang ada beruang! Ayo dong, diam..beruang itu ada di luar jendela..cup..cup...”.Si bayi tetap saja menangis keras.
Di bawah jendela, harimau melamun heran.” seperti apa sih makhluk yang menangis itu? Aku ingin lihat wajahnya. Dia tidak takut pada serigala bahkan pada beruang!”.

”Lihat-lihat..! itu ada seekor harimau. Dia di sana dekat jendela. Lihat cakarnya yang tajam-tajam!”. kata ibunya lagi namun si bayi tak perduli, ia masih saja menangis.
Harimau itu terkejut, ”bagaimana ia bisa tau kalau aku ada disini?”Pikir harimau.ia juga tidak melihat sedikitpun rasa takut dari si bayi. Padahal selama ini tak ada satu orangpun yang tidak takut padanya.harimau mulai merasa cemas.

Sepatu Baru Laura

   Laura suka sepatu baru. Ia suka sekali jika diajak pergi ke toko sepatu dan memilih-milih sepatu kesukaanya. Lalu ia akan berjalan pulang ke rumah memakai sepatu barunya sambil membawa pulang sepatu lamanya di dalam dus.
   Suatu hari mama berkata,” Laura, ujung sepatumu sudah tipis dan bagian tumitnya licin. Ayo, pakai mantelmu. Kita pergi ke toko untuk membeli sepatu baru...”
   Toko sepatu itu sedang sepi. Laura tak perlu terburu-buru memilih sepatu. Ia melihat berkeliling untuk mencari sepatu model baru yang berwarna-warni.